“किरीटधारी अर्जुनने अकेले जो पराक्रम किया है, इसे सारे संसारके साथ तुमने प्रत्यक्ष देख लिया है। ऐसा पराक्रम न तो इन्द्र कर सकते हैं और न यमराज। न धाता कर सकते हैं और न भगवान् यक्षराज कुबेर ।।
kirīṭadhārī arjunena ekena yaḥ parākramaḥ kṛtaḥ, taṃ sarvalokena saha tvaṃ pratyakṣam apaśyaḥ. tādṛśaḥ parākramaḥ na śakraḥ kartuṃ śaknoti, na yamarājaḥ; na dhātā, na ca yakṣarājaḥ kuberaḥ. ato 'pi bhūyān svaguṇair dhanañjayaḥ, na cātivartiṣyati me vaco 'khilam; tavānuyātraṃ ca sadā kariṣyati. prasīda rājendra, śamaṃ tvam āpluhi.
Sañjaya berkata: Engkau telah menyaksikan dengan mata kepalamu sendiri—bersama seluruh dunia—keperkasaan Arjuna, sang pemakai mahkota, yang ia tunjukkan seorang diri. Daya seperti itu melampaui Indra dan Yama; bahkan Dhātā, Sang Pencipta, maupun Kubera, raja para Yakṣa, tak dapat menandinginya. Dan meski Dhanañjaya lebih agung lagi karena kebajikan alaminya, aku yakin ia tidak akan mengabaikan satu pun dari kata-kataku. Bahkan, ia akan senantiasa mengikuti pimpinanmu. Maka, wahai raja di atas para raja, tenangkan hati—terimalah damai dan buatlah perjanjian.
संजय उवाच
Even in the midst of war, wise counsel urges rulers to recognize overwhelming reality, restrain pride, and choose peace when it serves the greater good. True kingship is shown not only by fighting but by timely pacification (śama) and heeding sound advice.
Sanjaya reports and interprets Arjuna’s extraordinary battlefield prowess, declaring it unmatched even by major deities. Using this as persuasive leverage, he advises the king to be appeased and to seek peace, asserting that Arjuna—though supremely capable—will still respect guidance and follow the king’s lead.