अलंबलवधः (Alaṃbala-vadhaḥ) / The Slaying of Alaṃbala and the Advance toward Karṇa
अभ्यस्तो बहुभिर्बाणर्दशधर्मगतेन वै । “मैंने पुत्रशोकसे संतप्त, बाणोंद्वारा पीड़ित तथा भारी दुरवस्थाको प्राप्त होकर बहुसंख्यक बाणोंद्वारा उन्हें अनेक बार चोट पहुँचायी है
abhyasto bahubhir bāṇair daśa-dharma-gatena vai |
Ia berulang kali dihujani banyak anak panah dan terdorong ke keadaan yang gawat serta berbahaya. Lalu, dengan batin terbakar oleh duka kehilangan putra dan tubuh tersiksa oleh luka panah, dalam kerasnya tuntutan dharma perang ia pun membalas, menghantam lawannya berkali-kali dengan rentetan anak panah yang tak terhitung.
संजय उवाच
The verse highlights how grief and battlefield pressure can push a warrior into relentless retaliation; it implicitly raises the ethical tension between inner restraint and the demands of kṣatriya-duty amid war’s cruelty.
Sañjaya describes a combatant being heavily struck by many arrows and, having fallen into a dire condition, responding by repeatedly wounding the opponent with numerous arrows—an escalation driven by pain and bereavement.