यत् प्रशस्तं च लोकेषु पुण्यं यच्च शुभाशुभम् । तत्सर्व केशवो$चिन्त्यो विपरीतमतः परम्
yat praśastaṃ ca lokeṣu puṇyaṃ yac ca śubhāśubham | tat sarvaṃ keśavo 'cintyo viparītamataḥ param ||
Apa pun yang dipuji di tiga dunia, apa pun yang bernilai kebajikan, dan apa pun yang dihitung sebagai baik atau buruk—semuanya sesungguhnya adalah perwujudan Keśava yang tak terjangkau oleh pikiran. Mengira ada sesuatu yang terpisah dari Śrī Kṛṣṇa hanyalah tanda budi yang tersesat.
भीष्म उवाच
The verse teaches an all-pervading vision of the divine: all that is valued as good, meritorious, auspicious, or even inauspicious is encompassed within the inconceivable reality of Keśava (Kṛṣṇa). Therefore, strict separation of 'things' from Kṛṣṇa is presented as a mistaken worldview.
In Anuśāsana Parva, Bhīṣma instructs Yudhiṣṭhira on dharma and higher spiritual understanding. Here he emphasizes Kṛṣṇa’s supreme, all-inclusive nature, framing ethical categories (good/bad, auspicious/inauspicious) within a theological vision of Kṛṣṇa as the underlying reality.