Pratyakṣa–Āgama–Ācāra: Doubt, Proof, and the Practice of Dharma (प्रत्यक्ष–आगम–आचारविचारः)
(भूत्वा पूर्व गृहस्थस्तु पुत्रानृण्यमवाप्य च । कलत्रकार्य संतृप्प कारणात् संत्यजेद् गृहम् ।।
bhūtvā pūrvaṁ gṛhasthas tu putrān ṛṇyam avāpya ca | kalatrakārya-saṁtṛptaḥ kāraṇāt saṁtyajed gṛham ||
avasthāpya mano dhṛtyā vyavasāya-purassaraḥ | nirdhano vā sadāro vā vanavāsāya sa vrajet ||
Śrī Maheśvara bersabda: Setelah terlebih dahulu hidup sebagai kepala rumah tangga, seseorang hendaknya melunasi hutang kepada leluhur dengan memperanakkan putra, serta menuntaskan kewajiban yang timbul dari istri dan kehidupan berumah tangga. Sesudah itu, demi menyempurnakan dharma, ia patut meninggalkan rumah. Dengan meneguhkan batin melalui ketegaran dan dipimpin tekad yang bulat, ia berangkat menuju kehidupan rimba—tanpa harta dan seorang diri, atau bersama istrinya—memasuki laku vānaprastha sebagai peralihan etis yang sadar dari tugas duniawi menuju praktik rohani.
श्रीमहेश्वर उवाच
One should follow a staged ethical life: fulfill householder obligations—especially duties to ancestors through progeny and responsibilities connected with marriage—then, with firm resolve, transition to forest-dwelling for the focused pursuit of dharma and spiritual discipline.
Śrī Maheśvara instructs on the proper progression of the āśrama system, describing when and how a person should leave household life and depart for the forest, either alone and unencumbered or together with his wife, guided by steadiness of mind and determination.