Pratyakṣa–Āgama–Ācāra: Doubt, Proof, and the Practice of Dharma (प्रत्यक्ष–आगम–आचारविचारः)
तेषामृषिकृतो धर्मो धर्मिणामुपपद्यते । न कामकारात् कामोडन्य: संसेव्यो धर्मदर्शिभि:
teṣām ṛṣikṛto dharmo dharmiṇām upapadyate | na kāmakārāt kāmo 'nyaḥ saṁsevyo dharmadarśibhiḥ ||
Bagi mereka yang hidup menurut dharma, tata laku yang ditetapkan para resi sungguh berlaku dan berbuah. Para grihastha yang menegakkan dharma rumah tangga—menjadikan istri sebagai sahabat dalam dharma, mengekang indria, menjalankan kewajiban yang ditetapkan Weda, dan hanya bersetubuh pada masa yang semestinya—mereka memperoleh buah dari dharma yang diajarkan para resi. Orang yang melihat dharma dengan jernih tidak patut mengejar kenikmatan semata karena dorongan hasrat atau kehendak sesaat; pemanjaan yang digerakkan nafsu jangan dijadikan laku hidup.
श्रीमहेश्वर उवाच
Dharma is to be lived according to the standards established by the sages, and ethical people should not treat desire as a license for indulgence. The verse emphasizes restraint and rule-governed conduct rather than pleasure pursued from mere impulse.
Śrī Maheśvara is instructing about proper dharmic conduct. In context (as reflected in the accompanying explanation), the teaching is applied especially to householders: keeping marital life within Vedic discipline and practicing sense-control, not making desire the guiding principle.