Rudra-Śiva: Names, Two Natures, and the Logic of Epithets (रुद्रनाम-बहुरूपत्व-प्रकरणम्)
अश्वमेधजितॉल्लोकानाप्रोति त्रिदिवालये
aśvamedhajitān lokān āpnoti tridivālaye | yo rājā duḥkhī manuṣyānāṃ hastasya sahāraṃ dadāti sa iha ca paraloke ca sammānito bhavati | gāṃś ca brāhmaṇāṃś ca saṅkaṭāt trātuṃ yaḥ parākramaṃ darśayitvā saṅgrāme mṛtyuṃ prāpnoti sa svarge ’śvamedhayajñair jitān lokān adhitiṣṭhati ||
Maheshvara menyatakan: raja yang menjadi “tangan penopang” bagi orang-orang yang menderita akan dimuliakan di dunia ini dan di alam sesudah kematian. Dan ia yang, demi menyelamatkan sapi-sapi serta para Brahmana dari bahaya, memperlihatkan keberanian lalu gugur di medan perang, mencapai surga dan memperoleh kekuasaan atas wilayah-wilayah yang dikatakan dimenangkan oleh yajña Aśvamedha—menyamakan kepemimpinan yang melindungi dan berkorban diri dengan pahala ritual tertinggi.
श्रीमहेश्वर उवाच
True royal dharma is protective compassion: supporting the distressed and risking even one’s life to safeguard cows and Brahmins yields honor here and heavenly reward beyond, comparable to the highest royal sacrifices.
Maheśvara is instructing about the fruits of righteous conduct: he praises the king who aids suffering subjects and extols the warrior who dies defending vulnerable, dharmically significant groups, stating that such death grants exalted heavenly status like that gained through Ashvamedha rites.