Ahiṃsā as Threefold Restraint (Mind–Speech–Action) and the Ethics of Consumption
कीड़ेकी योनिसे छूटनेपर वह गदहेका जन्म पाता है। पाँच वर्षतक गदहा रहकर पाँच वर्ष सूअर, पाँच वर्ष मुर्गा, पाँच वर्ष सियार और एक वर्ष कुत्ता होता है। उसके बाद वह मनुष्ययोनिमें उत्पन्न होता है ।।
upādhyāyasya yaḥ pāpaṃ śiṣyaḥ kuryād abuddhimān | sa jīva iha saṃsārāṃs trīn āpnoti na saṃśayaḥ ||
Yudhiṣṭhira berkata: Seorang murid yang bodoh, yang melakukan dosa dengan menghina dan melukai kehormatan gurunya, niscaya mengalami tiga kelahiran rendah di dunia ini—tanpa keraguan. Karena perbuatan itu, sang jiwa merosot melalui berbagai keadaan yang menakutkan dan kelahiran sebagai makhluk hina; dan hanya setelah menanggung buah karmanya ia kembali memperoleh kelahiran sebagai manusia. Demikian ditegaskan beratnya pelanggaran ikatan guru–murid dan kepastian buah perbuatan.
युधिछिर उवाच
Offending one’s teacher is presented as a grave ethical violation; by karma it leads to degrading consequences across successive births, emphasizing reverence, restraint, and responsibility within the guru–disciple relationship.
Yudhiṣṭhira states a doctrinal warning: a foolish student who wrongs his teacher inevitably undergoes three low states of existence (saṃsāra), illustrating karmic retribution before eventual return to human birth.