Ahiṃsā as Threefold Restraint (Mind–Speech–Action) and the Ethics of Consumption
एकस्तरति दुर्गाणि गच्छत्येकस्तु दुर्गतिम् । बृहस्पतिजीने कहा--राजन्! प्राणी अकेला ही जन्म लेता
yudhiṣṭhira uvāca |
ekas tarati durgāṇi gacchaty ekas tu durgatim |
yaḥ nīcaḥ puruṣo dhana-lobhena vā śatrutā-kāraṇād vā śastraṃ gṛhītvā nihataṃ (aśastraṃ) puruṣaṃ hanti sa mṛtyor anantaram gardabha-yoniṃ prāpnoti ||
kharo jīvati varṣe dve tataḥ śastreṇa vadhyate |
sa mṛto mṛga-yoniṃ tu nityodvignaḥ punar jāyate ||
Seorang insan menyeberangi jalan-jalan sukar seorang diri, dan seorang diri pula jatuh ke dalam kebinasaan. Makhluk hidup lahir seorang diri, mati seorang diri; seorang diri menaklukkan derita dan seorang diri mengecap malapetaka. Maka orang hina yang karena loba harta atau karena permusuhan mengangkat senjata dan membunuh orang tak bersenjata—sesudah mati terlahir dalam rahim keledai. Sebagai keledai ia hidup dua tahun, lalu dibunuh oleh senjata; mati demikian, ia lahir di antara rusa dan hidup senantiasa gelisah, selalu takut kepada para pemburu.
युधिछिर उवाच
Moral responsibility is personal and inescapable: one faces the fruits of one’s actions alone. Specifically, violence driven by greed or enmity—especially killing an unarmed person—leads to degrading rebirths and a life marked by fear and suffering.
In Anuśāsana Parva’s ethical instruction, Yudhiṣṭhira articulates (with a traditional attribution to Bṛhaspati in the accompanying gloss) a karmic warning: the killer of an unarmed man is reborn first as a donkey, then after being slain, as a deer-like creature, living constantly terrified of hunters.