Śama-prāptiḥ — Gautamī–Lubdhaka–Pannaga–Mṛtyu–Kāla-saṃvāda
Restraint through the Analysis of Karma and Time
यद्य॒हं कारणत्वेन मतो लुब्धक तत्त्वतः । अन्य: प्रयोगे स्यादत्र किल्बिषी जन्तुनाशने
yady ahaṃ kāraṇatvena mato lubdhaka tattvataḥ | anyaḥ prayoge syād atra kilbiṣī jantunāśane ||
Ular itu berkata: “Wahai pemburu! Jika engkau sungguh menganggap akulah sebabnya, maka nilailah dengan tepat: dalam pembunuhan makhluk hidup ini, yang bersalah adalah yang lain—si penggerak yang mendorong perbuatan. Tanpa pelaku yang digerakkan, tak ada tindakan yang terjadi; maka walau kita berdua dapat disebut sebab, kesalahan terutama jatuh pada sang penghasut. Mengira akulah sebab sejati kematian anak ini adalah kekeliruanmu; penggeraknya ialah Maut sendiri, dialah pemusnah makhluk.”
सर्प उवाच
The verse probes moral responsibility by distinguishing between a mere instrumental cause and the instigating cause: guilt is argued to lie more heavily with the one who impels or ordains the act (here identified with Death), rather than with a secondary instrument.
In a dispute over a child’s death, the serpent addresses the hunter and denies being the true culprit, arguing that the deeper cause is the instigator—Death—who brings about the destruction of living beings.