Āstīka-stuti at Janamejaya’s Sacrifice (आस्तीकस्तुतिः / यज्ञप्रशंसा)
चिन्तयामास पापात्मा मनसा पन्नगाधम: । दष्टं यदि मया विप्र: पार्थिवं जीवयिष्यति
cintayāmāsa pāpātmā manasā pannagādhamaḥ | daṣṭaṃ yadi mayā vipraḥ pārthivaṃ jīvayiṣyati ||
Janamejaya berkata: Sang pendosa, ular yang paling hina itu merenung dalam hati: “Jika brahmana ini menghidupkan kembali raja yang telah kugigit, orang akan berkata bahwa racun Takṣaka pun telah dinetralisir; maka Takṣaka akan menjadi bahan olok-olok di dunia.” Maka, demi gengsi dan nama baik yang ia dahulukan daripada dharma, ia menenangkan sang brahmana dengan harta.
जनमेजय उवाच
The verse highlights how ego and fear of public ridicule can drive unethical choices: the serpent values reputation over dharma and attempts to obstruct a life-saving act through wealth, illustrating the moral danger of pride and bribery.
Janamejaya narrates that the serpent (identified in the prose context as Takṣaka) worries that if a brahmin revives the bitten king, his poison’s fame will be diminished; therefore he decides to influence the brahmin with money to prevent the king’s restoration.