Garuḍa–Śakra Saṃvāda and the Retrieval of Amṛta (गरुड–शक्र संवादः अमृत-अपहरण-प्रसङ्गः)
गुरु भारं समासाद्योड्डीन एष विहंगम: । गरुडस्तु खगश्रेष्स्तस्मात् पन्नमनभोजन:
guru-bhāraṃ samāsādya uḍḍīna eṣa vihaṅgamaḥ | garuḍas tu khagaśreṣṭhas tasmāt pannam-anabhojanaḥ ||
Rauhiṇa berkata: “Burung ini telah mengangkat beban yang berat lalu terbang tinggi. Karena itu ia disebut Garuḍa, yang terbaik di antara burung—dan ia pun menahan diri, tidak menjadikan ular sebagai santapan.” Dengan demikian ayat ini menjelaskan etimologi tradisional nama ‘Garuḍa’ dari perbuatannya mengangkat beban besar dan naik ke angkasa, sekaligus menegaskan keluhuran pengendaliannya.
रौहिण उवाच
The verse highlights how names can encode remembered deeds (traditional nirukti/etymology) and also frames Garuḍa’s identity with an ethical note of restraint—‘not eating serpents’—emphasizing self-control alongside power.
Rauhiṇa describes a remarkable bird who, after taking up a great weight, flies into the sky; on that basis he is identified and named ‘Garuḍa,’ praised as the foremost of birds, with the added characterization that he abstains from eating serpents.