Droṇa’s Ācārya-Dakṣiṇā: Capture of Drupada and Division of Pāñcāla (द्रोण-आचार्यदक्षिणा)
ततो दुर्योधनस्तत्र हृदयेन हसन्निव | कृतकृत्यमिवात्मानं मन्यते पुरुषाधम:
tato duryodhanas tatra hṛdayena hasann iva | kṛtakṛtyam ivātmānaṃ manyate puruṣādhamaḥ ||
Maka saat itu Duryodhana, seakan tertawa dalam hatinya—si manusia paling hina—menganggap dirinya telah mencapai maksudnya. Batinnya setajam mata pisau, namun ucapannya di luar begitu manis seolah meneteskan amerta. Ia pun, laksana saudara kandung dan sahabat yang beritikad baik, sendiri menyuguhkan kepada Bhimasena aneka hidangan. Bhimasena tidak mengenal cela dalam santapan; maka apa pun yang disajikan Duryodhana, semuanya ia habiskan. Melihat itu, Duryodhana yang rendah budi merasa puas dalam hati dan mengira rencananya telah berhasil.
वैशम्पायन उवाच
The verse condemns inner malice concealed beneath outward propriety: a person may appear courteous, yet if the heart delights in harming others, that hidden intention marks ethical baseness (adharma).
Vaiśampāyana describes Duryodhana’s inner state at that moment: he secretly laughs to himself and feels his plan has succeeded, revealing his deceitful satisfaction despite any outward show of friendliness.