Adhyāya 123 — Droṇa’s Pedagogy: Arjuna’s Preeminence, Ekalavya’s Self-Training, and the Bhāsa-Lakṣya Trial
नातश्षतुर्थ प्रसवमापत्स्वपि वदन्त्युत । अतः: परं स्वैरिणी स्थाद् बन्धकी पञ्चमे भवेत्
Vaiśampāyana uvāca | nātaś caturtha-prasavam āpatsu api vadanty uta | ataḥ paraṁ svairiṇī syād bandhakī pañcame bhavet ||
Kuntī berkata: “Wahai Āryaputra! Bahkan pada masa kesukaran pun, śāstra tidak membenarkan kelahiran anak keempat melampaui batas yang ditetapkan. Karena itu, perempuan yang menghendaki keturunan melampaui ukuran itu disebut ‘svairiṇī’; dan bila sampai melahirkan anak kelima, ia dipandang sebagai ‘bandhakī’—perempuan yang mendatangkan aib bagi keluarga.”
वैशम्पायन उवाच
The verse asserts that dharma-śāstra places limits on procreation and that even in hardship (āpatsu) one should not transgress prescribed boundaries; exceeding them is framed as a moral and social lapse.
Vaiśampāyana, as narrator, cites a normative śāstric rule: seeking offspring beyond the allowed number is censured, with escalating labels (‘svairiṇī’, then ‘bandhakī’) used to mark increasing transgression.