Pāṇḍu’s Marriages, Conquests, and Triumphal Return (पाण्डोर्विवाह-विजय-प्रत्यागमनम्)
वैशम्पायन उवाच एवमुक्क्त्वा महातेजा व्यास: सत्यवतीं तदा | शयने सा च कौसल्या शुचिवस्त्रा हालंकृता
vaiśampāyana uvāca | evam uktvā mahātejā vyāsaḥ satyavatīṃ tadā | śayane sā ca kausalyā śucivastrā alaṅkṛtā |
Vaiśampāyana berkata, “Wahai Janamejaya, setelah berkata demikian, sang resi agung dan bercahaya, Vyāsa, lalu berpesan kepada Satyavatī: ‘Biarlah Kausalyā (Ambikā), setelah mandi penyucian, mengenakan busana bersih dan berhias, menanti di ranjang.’ Setelah mengucapkannya, ia lenyap dari pandangan. Kemudian Satyavatī mendatangi menantunya Ambikā secara diam-diam, dan dalam saat krisis itu menyampaikan kata-kata yang bermanfaat—berlandaskan dharma dan pertimbangan kesejahteraan—seraya memintanya mendengarkan dengan saksama.
वैशम्पायन उवाच
The passage frames a crisis-response ethic: when a lineage faces extinction, elders may counsel actions aimed at the greater good (artha and welfare) while still presenting them as grounded in dharma—an instance of āpaddharma, where duty is interpreted through necessity, propriety, and communal responsibility.
Vyāsa instructs Satyavatī that Kausalyā should prepare—bathed, in clean clothes, adorned—and wait in the bedchamber. After giving this directive, he disappears. Satyavatī then goes privately to Ambikā and speaks beneficial, dharma-aligned counsel, preparing her for what must be done to address the dynastic emergency.