Brahmacarya and Vānaprastha Duties; Gradual Dissolution of Bodily Identity
मनो मनोरथैश्चन्द्रे बुद्धिं बोध्यै: कवौ परे । कर्माण्यध्यात्मना रुद्रे यदहं ममताक्रिया । सत्त्वेन चित्तं क्षेत्रज्ञे गुणैर्वैकारिकं परे ॥ २९ ॥ अप्सु क्षितिमपो ज्योतिष्यदो वायौ नभस्यमुम् । कूटस्थे तच्च महति तदव्यक्तेऽक्षरे च तत् ॥ ३० ॥
mano manorathaiś candre buddhiṁ bodhyaiḥ kavau pare karmāṇy adhyātmanā rudre yad-aham mamatā-kriyā
Pikiran beserta segala angan-angan hendaknya melebur pada dewa bulan; kecerdasan beserta objek-objek pengetahuan ditempatkan pada Brahmā, sang Kavi Tertinggi. Ego palsu yang dikuasai guṇa—yang menimbulkan rasa “aku” dan “milikku”—bersama kegiatan karma hendaknya dilebur pada Rudra, penguasa ego. Kesadaran batin (citta) dalam sattva hendaknya melebur pada jīva, sang kṣetrajña; dan unsur vaikarika beserta para dewa yang bekerja di bawah guṇa hendaknya melebur ke dalam Yang Mahatinggi. Bumi melebur ke air, air ke cahaya matahari, cahaya ke udara, udara ke langit, langit ke ego, ego ke mahat-tattva, mahat ke pradhāna yang tak termanifest, dan akhirnya unsur tak termanifest itu ke Paramātmā.
This verse teaches that the ‘I’ and ‘mine’ tendency (ahaṁ-mamatā) should be offered up—merged into its presiding principle (Rudra)—so that one can return consciousness to the kṣetrajña and ultimately to the Supreme.
He links inner faculties (mind, intelligence, ego) to their cosmic presiding deities, showing a systematic yogic process of withdrawing material identification and re-centering everything in the Supreme.
Practice noticing mental schemes and possessiveness, then consciously offer them to God through prayer and disciplined devotion—reducing ego-based reactions and restoring clarity of the witnessing self.