Ikṣvāku Dynasty: Vikukṣi’s Offense, Purañjaya’s Victory, Māndhātā’s Birth, and Saubhari’s Fall and Renunciation
एकस्तपस्व्यहमथाम्भसि मत्स्यसङ्गात् पञ्चाशदासमुत पञ्चसहस्रसर्ग: । नान्तं व्रजाम्युभयकृत्यमनोरथानां मायागुणैर्हृतमतिर्विषयेऽर्थभाव: ॥ ५२ ॥
ekas tapasvy aham athāmbhasi matsya-saṅgāt pañcāśad āsam uta pañca-sahasra-sargaḥ nāntaṁ vrajāmy ubhaya-kṛtya-manorathānāṁ māyā-guṇair hṛta-matir viṣaye ’rtha-bhāvaḥ
Pada mulanya aku sendirian tekun dalam tapa-yoga; kemudian karena pergaulan dengan ikan yang kawin-mengawin, timbul hasrat untuk menikah. Lalu aku menjadi suami lima puluh istri, dan dari masing-masing lahir seratus putra; demikian keluargaku berkembang menjadi lima ribu. Oleh pengaruh guna-guna māyā, pikiranku terseret dan aku mengira kebahagiaan ada pada kenikmatan indria; maka tiada akhir bagi hasrat menikmati, di hidup ini maupun yang akan datang.
This verse warns that even a tapasvī can become bound when association awakens desire; māyā’s modes then steal discernment and make sense-objects appear supremely meaningful.
It is a vivid example showing how seemingly small contact can trigger deep entanglement—desire multiplies, time is consumed, and one forgets the true spiritual aim.
Choose uplifting association, limit sense-driven inputs, and regularly re-anchor the mind in bhakti practices so that māyā does not redirect life into endless plans and cravings.