
Liturgi Antyeṣṭi (upacara pemakaman) yang meneguhkan perjalanan arwah dengan menyelaraskan kematian, ritus, dan garis leluhur dengan ṛta (tatanan kosmis). Subtema meliputi: bimbingan Devayāna dan perjalanan aman menuju alam Yama; menstabilkan yajña serta “jalan lama” (pūrvapatha) para Bapa/Leluhur; pemulihan “mātrā” (ukuran/ketentuan umur) bagi yang hidup dan perlindungan dari kematian dini; integrasi leluhur—bergabung dengan Pitṛs melalui persembahan dan ujaran yang tepat; serta motif psikopomp yang membawa keberuntungan (mis. Aghnyā/sapi, dll.).
AV 18.1 adalah himne pemakaman (antyeṣṭi) yang utama, yang melegitimasi peralihan sang mendiang dengan menambatkan ritus pada tatanan kosmis (ṛta): penetapan oleh para dewa atas cahaya surya, musim-musim, dan jalan para leluhur. Himne ini memanggil Langit–Bumi, Perairan, Sūrya/Jyotis (cahaya), serta para Pitṛ (leluhur) sebagai saksi dan penolong agar transisi berlangsung tertib, lembut—seakan “dimemaniskan”—dan terlindung dari daya-daya pengacau. Daya himne terletak pada penyelarasan momen ambang kematian dengan irama kosmos yang mantap, sehingga menjamin kenaikan yang aman dan penerimaan leluhur yang penuh kebajikan.
AV 18.2 adalah himne Atharvanik yang panjang tentang umur panjang dan masa peralihan, yang menegakkan kembali “mātrā” (ukuran/takaran) kehidupan seseorang agar tidak terkuras sebelum waktunya, dengan tujuan mencapai cita-cita hidup “seratus musim gugur”. Bergerak antara ranah āyuṣya (pemanjangan hidup) dan ranah pitṛ/antyeṣṭi (leluhur–ritus pemakaman), himne ini memanggil daya-daya yang membawa kebaikan—terutama ukuran-hidup itu sendiri, para Pitṛ (Bapa Leluhur), dan Agni pelindung laksana zirah—untuk menolak kekuatan yang mengurangi hidup serta menjamin kelangsungan yang aman dan perlindungan dalam keadaan-keadaan liminal
Kidung pemakaman ini menuntun arwah yang wafat dari ranah manusia menuju devayāna (jalan para dewa), dengan memanggil daya mujur yang disakralkan oleh lembu (Aghnyā) sebagai penuntun jiwa, serta Yama sebagai perintis pertama di antara manusia yang menemukan jalan itu. Pada saat yang sama, kidung ini meneguhkan komunitas yang hidup dengan mengingat Pitṛ (para Leluhur) sebagai teladan para pelaku ritus: mereka menguatkan Agni dan Indra dan menegakkan suatu lingkup sosial yang terlindungi, kaya ternak, dan makmur. Daya kidung ini terletak pada “penempatan yang tepat” bagi yang mati—kenaikan yang aman, penerimaan ke dalam barisan leluhur, serta pemeteraian agar yang tidak mujur tidak kembali mengganggu atau menimbulkan kekacauan.
AV 18.4 adalah liturgi panjang tentang pemakaman dan leluhur yang meneguhkan ritus (yajña) serta menuntun persembahan dan arwah yang berpulang menapaki “jalur lama” yang telah dilalui para pendahulu. Himne ini berulang kali menempatkan persembahan pada tempatnya, memanggil para penerima yang berhak (terutama daya Lokakṛt/Pathikṛt, ‘pembentuk dunia/pembuka jalan’), dan memastikan perjalanan tanpa rintangan, perlindungan, serta pembagian bagian persembahan yang tepat di dalam keseluruhan rangkaian ritus kematian
Read Atharva Veda in the Vedapath app
Scan the QR code to open this directly in the app, with word-by-word meanings, Sanskrit recitation where available, and more.