Draupadī’s Rebuke of Jayadratha and Dhaumya’s Admonition (Āraṇyaka-parva, Adhyāya 252)
आह्वानाय तदा चक्कु: कर्म वैतानसम्भवम् । बृहस्पत्युशनोक्तैश्न मन्त्रैर्मन्त्रविशारदा:
āhvānāya tadā cakkuḥ karma vaitānasambhavam | bṛhaspatyuśanoktaiś ca mantrair mantraviśāradāḥ ||
Vaiśaṃpāyana berkata: Lalu, untuk memanggilnya, para pakar mantra itu menjalankan suatu upacara Vaitāna (ritus Atharvaveda), menggunakan jampi yang diajarkan oleh Bṛhaspati dan Uśanas (Śukrācārya). Dalam konteks kisah, para Daiteya dan Dānava bawah tanah, takut kematian Duryodhana akan meruntuhkan pihak mereka, bergantung pada korban suci dan kuasa mantra untuk menariknya kepada mereka—menunjukkan bagaimana kepentingan diri boleh mendorong tindakan ritual yang berilmu ke arah tujuan yang meragukan dari segi dharma.
वैशम्पायन उवाच
The verse highlights that ritual knowledge and mantra-power are ethically neutral tools: their moral value depends on intention. Here, learned rites are driven by factional fear and self-preservation, illustrating how spiritual techniques can be pressed into service of adharma when motivated by expediency rather than righteousness.
The mantra-experts (in the broader episode, Daityas/Dānavas) perform an Atharvavedic/Vaitāna ritual using mantras attributed to Bṛhaspati and Uśanas in order to summon the intended person (contextually, Duryodhana) to their presence.