Adhyāya 17 — Gandhārī’s Vilāpa at Duryodhana’s Body (स्त्रीपर्व, अध्याय १७)
पुत्र रुधिरसंसिक्तमुपजिप्रत्यनिन्दिता । दुर्योधन तु वामोरु: पाणिना परिमार्जती
putra-rudhira-saṁsiktam upajihpraty aninditā | duryodhanaṁ tu vāmoruḥ pāṇinā parimārjatī ||
Vaiśampāyana berkata: Wanita yang tidak bercela itu, lidahnya terjulur, mengusap dengan tangannya darah yang melekat pada tubuh (atau anggota) anaknya, Duryodhana. Pemandangan ini menegaskan harga kemanusiaan yang amat pahit akibat perang: bahkan di tengah dukacita yang wajar, kesan pertikaian yang digerakkan oleh adharma merendahkan rumah-rumah diraja kepada ratapan yang tidak berdaya dan perbuatan menjaga yang amat dekat terhadap yang gugur.
वैशम्पायन उवाच
The verse highlights the moral and human aftermath of adharma-driven war: power and pride culminate in suffering, and even the ‘victors’ and ‘vanquished’ alike are left with grief, helplessness, and the duty of care for the dead.
In the Stree Parva’s lamentation scenes, a blameless woman—understood in context as Gāndhārī—approaches the fallen Duryodhana and, overwhelmed with sorrow, wipes the blood from her son’s body with her hand.