Śuka’s Guṇa-Transcendence and Vyāsa’s Consolation (शुकगति-वर्णनम्)
काषायधारणं मौण्ड्यं त्रिविष्टब्धं कमण्डलुम् । लिज्जन्युत्पथभूतानि न मोक्षायेति मे मति:
kāṣāyadhāraṇaṃ mauṇḍyaṃ trivisṭabdhaṃ kamaṇḍalum | lijjanyutpathabhūtāni na mokṣāyeti me matiḥ ||
Janaka berkata: “Memakai jubah oker, mencukur kepala, dan membawa kamandalu yang digantung pada tongkat—apabila semua itu menjadi sekadar lencana lahiriah yang menjerumuskan ke dalam keangkuhan dan jalan sesat—maka pada hematku, itu bukanlah jalan menuju moksha. Pembebasan tidak diperoleh melalui pakaian dan pertunjukan, tetapi melalui disiplin batin dan pengertian yang benar.”
जनक उवाच
External marks of sainthood—ochre robes, a shaven head, and an ascetic’s water-pot—do not by themselves lead to moksha; when adopted for display they become a wrong path. True liberation depends on inner purity, restraint, and right knowledge.
King Janaka is speaking in a didactic context, critiquing superficial renunciation. He warns that outward ascetic symbols, if motivated by pride or pretense, mislead the practitioner and fail to produce liberation.