Śaraṇāgatapālana—Prastāvanā
Protection of the Refuge-Seeker: Opening of the Kapota Narrative
प्रहरिष्यन् प्रियं ब्रूयात् प्रहत्यैव प्रियोत्तरम् । असिनापि शिरश्छित्त्वा शोचेत च रुदेत च,“प्रहार करनेके लिये उद्यत होकर भी प्रिय वचन बोले, प्रहार करनेके पश्चात् भी प्रिय वाणी ही बोले, तलवारसे शत्रुका मस्तक काटकर भी उसके लिये शोक करे और रोये
praharīṣyan priyaṁ brūyāt prahatyaiva priyottaram | asināpi śiraś chittvā śocet ca rudet ca |
Bhīṣma mengajarkan: Walaupun seseorang sudah bersiap untuk memukul, hendaklah dia bertutur kata yang lembut dan menyenangkan; walaupun setelah memukul, hendaklah dia menjawab dengan tutur yang baik. Walaupun telah menebas musuh—memenggal kepalanya dengan pedang—hendaklah tetap berdukacita atas nyawa itu dan menangis. Etika yang diajarkan ialah menahan diri dan berbelas kasih di tengah kekerasan yang tidak dapat dielakkan: tindakan keras mungkin dituntut oleh dharma, tetapi kekejaman pada kata-kata dan hati tidaklah perlu.
भीष्म उवाच
Even when violence is undertaken as a matter of duty, one must preserve gentleness of speech and compassion of heart—avoiding cruelty, gloating, and harsh words; the ideal is disciplined force without hatred.
In Śānti Parva, Bhīṣma instructs Yudhiṣṭhira on righteous conduct. Here he describes the highest standard for a warrior: speak kindly before and after striking, and even after killing an enemy, grieve for the loss of life rather than exult.