Jaitrya-nimitta: Signs of Prospective Victory and the Priority of Conciliation (जयलक्षण-निमित्त तथा सान्त्व-प्रधान नीति)
को देखा | च यत् कुर्युरपराधिन: । क्रोशेद् बाहुं प्रगृह्मापि चिकीर्षन् जनसंग्रहम्
ko dṛṣṭvā ca yat kuryur aparādhinaḥ | krośed bāhuṃ pragṛhya api cikīrṣan jana-saṅgraham ||
Bhīṣma berkata: “Melihat apa yang lazim dilakukan oleh orang yang bersalah, hendaklah seseorang bertindak demikian juga: demi memenangi hati orang ramai, hendaklah dia menangis sekuat-kuatnya, walaupun sambil memegang lengan orang lain, dan memperlihatkan dukacita yang berlebih-lebihan. Begitu juga, apabila para pahlawan di pihak sendiri—pembunuh musuh—telah terbunuh atau cedera, hendaklah dia meratapi kehilangan itu seolah-olah dia sendiri bersalah, meraung dan merintih agar simpati rakyat berpihak kepadanya.”
भीष्म उवाच
Bhishma highlights a tactic of rajaniti: to secure jana-saṅgraha (public support), a ruler or leader may outwardly display intense grief and sympathy—sometimes performatively—so that the people’s sentiment turns in his favor. The verse points to how public emotion can be managed, raising ethical tension between genuine compassion and calculated display.
In Shanti Parva, Bhishma instructs Yudhishthira on governance and political conduct. Here he describes how, after losses among one’s own warriors, a leader might publicly lament—crying aloud and taking someone by the arm—to create solidarity and shape public perception, much like wrongdoers who dramatize remorse to influence others.