ततो<सस््य विधिवच्चक्रुः पितृमेधं महात्मन:
tato 'sya vidhivac cakruḥ pitṛmedhaṃ mahātmanaḥ | apasavyam akurvanta dhṛtarāṣṭramukhāśritāḥ ||
Kemudian mereka melaksanakan upacara pengebumian (pitṛmedha) bagi Bhīṣma yang berhati luhur itu menurut tatacara yang sah. Dipimpin oleh Dhṛtarāṣṭra dan para terkemuka dalam kalangan Kaurava, mereka menunaikan segala amalan yang ditetapkan, termasuk mengelilingi unggun pembakaran secara songsang sebagaimana adat upacara kematian. Dengan kesungguhan yang tertib, mereka memuliakan sang tua yang gugur, menegakkan dharma melalui ritual yang benar meski selepas kehancuran perang.
वैशम्पायन उवाच
Even after catastrophic conflict, dharma is upheld through proper conduct toward elders and the dead: performing prescribed rites with sincerity restores moral order, expresses gratitude, and affirms social and spiritual responsibility beyond personal enmity.
After Bhīṣma’s passing, the Pāṇḍavas and Kauravas—led by Dhṛtarāṣṭra—carry out his funerary rites in full accordance with ritual law, including the apasavya (counterclockwise) movement appropriate to funeral ceremonies, along with offerings into fire and Vedic chanting.