Rudra-Śiva: Names, Two Natures, and the Logic of Epithets (रुद्रनाम-बहुरूपत्व-प्रकरणम्)
(पुरा युगान्तरे यत्नादमृतार्थ सुरासुरै: । बलवद्धिविमथितश्चिरकालं महोदधि: ।।
purā yugāntare yatnād amṛtārthaṁ surāsuraiḥ | balavaddhi vimathitaś cirakālaṁ mahodadhiḥ ||
Mahādeva bersabda: “Pada suatu kitaran zaman yang lampau, para dewa dan asura, bersungguh-sungguh dengan usaha yang besar demi memperoleh amṛta—nektar keabadian—telah mengaduk samudera raya untuk waktu yang lama. Ketika lautan besar itu dikocak dengan Gunung Mandara sebagai penggiling dan Vāsuki, raja naga, sebagai talinya, muncullah racun yang mengerikan, pemusnah segala dunia. Melihatnya, para dewa pun menjadi muram. Wahai Dewi, demi kesejahteraan tiga alam, akulah yang meneguk racun itu. Maka pada leherku tampak tanda kebiruan laksana bulu merak; sejak saat itu aku dikenang sebagai Nīlakaṇṭha. Segala ini telah kukatakan kepadamu—apa lagi yang ingin engkau dengar?”
श्रीमहेश्वर उवाच
The verse frames a moral pattern: great attainments (amṛta) require sustained effort and may demand cooperation even between opponents; yet the pursuit of a lofty goal can first release dangers, implying the need for guardianship and self-sacrifice to protect the common good.
Mahādeva begins recounting the ancient episode of the churning of the ocean: devas and asuras jointly churn the great ocean for a long time to obtain amṛta, setting up the later emergence of poison and Śiva’s protective act.