यदि पुत्रसमं शिष्य॑ गुरुहन्यादकारणे । आत्मन: कामकारेण सोऊपि हिंस्र: प्रजायते
yadi putrasamaṁ śiṣyaṁ gurur hanyād akāraṇe | ātmanaḥ kāmakāreṇa so 'pi hiṁsraḥ prajāyate ||
Yudhiṣṭhira berkata: Jika seorang guru, didorong oleh kehendak dan nafsunya sendiri, membunuh seorang murid yang laksana anak, tanpa sebab yang adil, maka guru itu juga menjadi insan yang ganas. Kekuasaan tidak mensucikan kekejaman: bahkan seorang guru menanggung cela moral apabila bertindak menurut dorongan diri, bukan menurut dharma.
युधिछिर उवाच
Even a guru is not above dharma: killing a disciple without just cause, out of personal desire or whim, makes the teacher culpable and morally ‘violent’. Legitimate authority cannot excuse adharma.
Yudhiṣṭhira is articulating an ethical principle within the Anuśāsana Parva’s instruction on right conduct: he frames a conditional case about a guru harming a disciple to clarify that unjustified violence—especially by one entrusted with care—corrupts the doer.