Vāraṇāvata-prasaṃsā and the Pāṇḍavas’ Departure (वरणावत-प्रशंसा तथा पाण्डव-प्रयाणम्)
नाराजा पार्थिवस्यापि सखिपूर्व किमिष्यते । अहं त्वया न जानामि राज्यार्थे संविदं कृताम्
vaiśampāyana uvāca |
na rājā pārthivasyāpi sakhi-pūrvaṁ kim iṣyate |
ahaṁ tvayā na jānāmi rājya-arthe saṁvidaṁ kṛtām, dvija-śreṣṭha ||
Vaiśampāyana berkata: “Bahkan bagi seorang raja sekalipun, apakah nilainya persahabatan lama dengan seorang penguasa duniawi semata? Aku tidak mengetahui adanya sebarang perjanjian yang dibuat denganmu demi sebuah kerajaan, wahai yang termulia antara yang dua kali lahir. Jangan bersandar pada persahabatan yang sudah usang: orang miskin tidak dapat menjadi sahabat sejati orang kaya, orang bodoh tidak dapat menjadi sahabat orang berilmu, dan pengecut tidak dapat menjadi sahabat wira. Bagaimana mungkin raja-raja besar mempunyai persahabatan yang tulen dengan orang sepertimu—tanpa seri dan tanpa harta? Yang bukan śrotriya tidak dapat menjadi sahabat śrotriya; yang bukan rathin tidak dapat menjadi sahabat rathin; dan yang bukan raja tidak dapat menjadi sahabat raja. Mengapa pula engkau mengingatkan aku akan persahabatan yang telah tua dan koyak? Aku tidak ingat pernah berjanji apa-apa kepadamu mengenai kerajaanku.”
वैशम्पायन उवाच
The verse highlights a hard-edged political ethic: friendship is treated as contingent on status, capability, and mutual advantage, and past intimacy is dismissed when it no longer aligns with power and wealth. It critiques (or at least depicts) how social hierarchy and self-interest can override personal bonds.
In Vaiśampāyana’s narration, a speaker repudiates an earlier friendship and denies having made any pact concerning the kingdom. The tone is dismissive and status-conscious, arguing that unequal social standing makes genuine friendship impossible and that old ties should not be invoked as claims upon royal obligation.