
Adhyaya ini merangkai legitimasi kerajaan, penyingkapan tirtha suci, dan pelembagaan tata-ritus di Veṅkaṭācala. Mula-mula Toṇḍamān naik takhta; Padmasaras dipuji sebagai telaga penyuci dan pemberi kemakmuran—pahala bertambah melalui kīrtana, smaraṇa, dan snāna. Sejajar dengan itu, Vasu, pemimpin para penghuni hutan, berjumpa Varāha yang bercahaya; Sang Dewa masuk ke valmīka dan mewasiatkan agar gundukan itu dibasuh dengan susu sapi, arca di atas landasan batu dikenali lalu diangkat untuk dipratishtha, serta pemujaan ditegakkan menurut tuntunan para ahli Vaikhānasa. Toṇḍamān memperoleh peneguhan lewat wahyu mimpi tentang bilamārga (jalur terowongan); mengikuti tanda-tanda ilahi seperti jejak pallava, ia membangun prākāra dan gerbang sebagai perlindungan, serta diperintah menjaga pohon asam jawa dan campaka sebagai penanda abadi kehadiran Tuhan. Lalu datang ujian moral-administratif: seorang brāhmaṇī hamil yang berada dalam penjagaan raja wafat karena kelalaian; atas arahan Śrīnivāsa dilakukan ritus pemulihan di Aṣṭhi-saras—telaga penolak ‘kematian tak wajar’—dan melalui mandi suci ia hidup kembali. Kisah kemudian meneguhkan bhakti yang sederhana: Bhīma si pembuat periuk dari Kurvagrāma mempersembahkan sajian kecil namun diterima; saat raja berkunjung, Bhīma dan istrinya mencapai Vaikuṇṭha. Penutup menggambarkan Toṇḍamān menata suksesi, menjalani tapa, memperoleh darśana ilahi, lalu meraih sā-rūpya dan Viṣṇupada. Phalaśruti menjanjikan buah luhur bagi yang setia mendengar dan melantunkan kisah ini.
No shlokas available for this adhyaya yet.