
The Advent of Maheśvara in Connection with Jālandhara’s Illusion
Adhyaya ini melanjutkan siklus Jālandhara dengan puncak pertempuran. Jālandhara (atau pahlawan asura yang congkak) melaju menantang Sadāśiva, mengejek tanda-tanda tapa dan wahana Śiva, sementara Vīrabhadra dan Maṇibhadra menghancurkan barisan Dānava. Gambaran medan perang yang berdarah, dengan tubuh tercerai-berai, menegaskan runtuhnya kesombongan para asura. Sesudah itu kisah beralih pada māyā. Putra Samudra, Arṇavātmaja, menyusun siasat tipu daya dan menghadirkan “Śiva” yang menyamar mendekati Gaurī. Pārvatī beserta para sahabatnya melihat Śiva berlumuran darah dan mendengar ratapan tentang kematian Skanda dan Gaṇeśa, lalu tenggelam dalam duka. Ucapan Māyā-Maheśvara makin menyesatkan, dan Pārvatī menegur ketidaksopanan, sekaligus menyisipkan ajaran dharma bahwa persetubuhan tidak patut dilakukan dalam keadaan tertentu, terutama saat berduka.
No shlokas available for this adhyaya yet.