
The Slaying of Citrāṅga
Dalam kisah Rāma-Aśvamedha, Citrāṅga maju ke medan laga dan beradu sengit dengan Puṣkala, putra Bharata. Duel memuncak lewat hujan panah yang cepat, kelihaian mengemudi kereta, dan kepandaian senjata; Puṣkala berkali-kali menghancurkan kereta Citrāṅga. Di sela pertempuran terjadi dialog: Citrāṅga mengakui keperkasaan Puṣkala, lalu diikrarkan sumpah yang mengubah pertarungan dari sekadar kekuatan menjadi pembuktian kebenaran menurut dharma. Puṣkala melakukan satya-kriyā berlandaskan bhakti kepada Rāma dan kesetiaan suami-istri, sehingga panah penentu memperoleh daya. Musuh mencoba membalas, namun panah maut itu menang, memenggal kepala Citrāṅga; pasukannya panik dan lari, sementara Puṣkala menerobos formasi—kemenangan dipandang sebagai kepahlawanan yang ditopang dharma.
No shlokas available for this adhyaya yet.