Adhyaya 23
Kriyayoga SaraAdhyaya 230

Adhyaya 23

The Glory of Ekādaśī: From Vigil Worship to Yama’s Court and the Two Paths

Vyāsa memperkenalkan Raja Kocaraśa dan Ratu Suprājñā sebagai Vaiṣṇava teladan yang teguh memuliakan Ekādaśī. Mereka menjaga disiplin Daśamī dan berjaga pada tengah malam—dengan nyanyian, tarian, dupa, pelita, tulasī, serta pujian bersama kepada Hari. Brāhmaṇa bernama Śauri memuji laku yang langka itu dan menanyakan sebab kemurnian mereka. Suprājñā mengungkap kelahiran lampau yang penuh dosa: ia pernah menjadi pelacur dan terikat pada lelaki bejat bernama Nityodaya. Namun karena keadaan yang memaksa, ia menjalani puasa Ekādaśī, menyalakan pelita, berjaga semalam, dan mengingat Nama Tuhan; semua itu—meski terjadi tanpa sengaja—menghancurkan dosa mereka. Di alam Yama, Citragupta bersaksi tentang kemuliaan Ekādaśī; Yama/Dharmarāja menghormati dan membebaskan mereka, lalu mengarahkan menuju kediaman Viṣṇu. Bab ini kemudian mengajarkan gambaran dua jalan setelah kematian: jalan bahagia dan berhias bagi orang berbudi, serta jalan luas penuh siksaan bagi para pendosa, disertai daftar neraka dan hukumannya. Pada akhirnya Ekādaśī ditegaskan sebagai vrata tertinggi, dan kisah ditutup dengan kenaikan pasangan raja itu menuju Hari.

Shlokas

No shlokas available for this adhyaya yet.