Udyoga-parva Adhyāya 71 — Kṣatra-dharma Counsel, Public Legitimacy, and Mobilization
आखयातारश्न विद्यन्ते पुमांश्चेद् विद्यते कुले दीर्घकालतक मनमें दबाये रखनेपर भी वैरकी आग सर्वथा बुझ नहीं पाती; क्योंकि यदि कोई उस कुलमें विद्यमान है, तो उससे पूर्वघटित वैर बढ़ानेवाली घटनाओंको बतानेवाले बहुत-से लोग मिल जाते हैं ।।
ākhyātāraś ca vidyante pumāṃś ced vidyate kule | dīrghakālatakaṃ manye dabāye rakṣite 'pi vaiḥ | na hi vairāgnir atyantaṃ śāmyati yadi kaścid asti kule || na cāpi vairaṃ vairena keśava vyupaśāmyati ||
Yudhiṣṭhira berkata: “Selama masih ada satu laki-laki dalam suatu garis keturunan, selalu ada orang yang menjadi penutur kisah-kisah lama. Sekalipun permusuhan ditekan dan disimpan lama dalam hati, api kebencian tak pernah padam sepenuhnya; sebab bila masih ada seorang pun dari keluarga itu, banyak orang akan mengisahkan peristiwa terdahulu yang menyalakan kembali dendam lama. Dan, wahai Keśava, permusuhan tidak diredakan oleh permusuhan.”
युधिछिर उवाच
Hatred cannot be ended by hatred; old feuds persist because people keep recounting past injuries, so true pacification requires restraint, forgiveness, and deliberate de-escalation rather than retaliation.
In the Udyoga Parva’s pre-war deliberations, Yudhiṣṭhira addresses Keśava (Kṛṣṇa), reflecting on how clan-based enmities survive across time through memory and storytelling, and warning that responding with further hostility only perpetuates the feud.