धृतराष्ट्रस्य बलाबलचिन्ता
Dhṛtarāṣṭra’s Appraisal of Strength and Preference for Śama
अपने पुत्रोंकी विजय चाहनेवाले विद्वान् एवं बुद्धिमान् राजा धृतराष्ट्रने बुद्धितत्त्वके द्वारा उक्त वचनके सूक्ष्म-से-सूक्ष्म गुण-दोषोंकी यथावत् समीक्षा करके दोनों पक्षोंकी प्रबलता एवं निर्बलताका यथार्थरूपसे निश्चय कर लिया। तत्पश्चात् जब उन्हें यह विश्वास हो गया कि गुण-दोषकी दृष्टिसे श्रीकृष्णका कथन सर्वोत्कृष्ट है
devamānuṣayoḥ śaktyā tejasā caiva pāṇḍavān | kurūn śaktyālpatarayā duryodhanam athābravīt ||
Vaiśaṃpāyana berkata: Dhṛtarāṣṭra—meski berhasrat memenangkan putra-putranya—menimbang dengan ketelitian yang halus segala kelebihan dan kekurangan dari nasihat yang telah diucapkan, lalu menetapkan dengan tepat kekuatan dan kelemahan kedua pihak. Setelah yakin bahwa pertimbangan Kṛṣṇa paling unggul dalam dharma dan siasat, ia kembali merenungkan daya Kaurava dan Pāṇḍava. Melihat Pāṇḍava lebih utama dalam dukungan ilahi, kemampuan manusiawi, dan kemilau wibawa, sedangkan pihak Kaurava tampak lebih lemah, ia pun berbicara kepada Duryodhana.
वैशम्पायन उवाच
Even when driven by partiality, a ruler is expected to examine counsel with discernment—measuring merits and faults—and to recognize where ethical and strategic superiority truly lies. The verse highlights that legitimacy and success are not merely numerical or political, but also depend on tejas (moral-martial brilliance) and perceived divine alignment.
After reflecting on the counsel attributed to Kṛṣṇa and judging it best, Dhṛtarāṣṭra compares the two factions. He concludes that the Pāṇḍavas surpass the Kauravas in divine backing, human strength, and tejas, and then turns to speak directly to Duryodhana.