हंस–साध्यसंवादः, वाक्-निग्रहः, महाकुल-लक्षणम्, शान्ति-उपायः
Hamsa–Sādhya Dialogue; Restraint of Speech; Marks of Noble Lineage; Means to Peace
वध्यावहासं श्वशुरो मन्यते यो वध्वा वसन्नभयो मानकाम: । परक्षेत्रे निर्वपति स्वबीजं स्त्रियं च य: परिवदते&तिवेलम्
vadhyāvahāsaṁ śvaśuro manyate yo vadhvā vasann abhayo mānakāmaḥ | parakṣetre nirvapati svabījaṁ striyaṁ ca yaḥ parivadate 'tivelam ||
Vidura memperingatkan: celaka membawa kehancuran—mertua laki-laki yang menganggap pantas menjadikan menantu perempuan bahan olok-olok, yang hidup dalam kedekatan tak patut dengannya namun tetap tak gentar dan masih mendambakan kehormatan sosial; orang yang menabur benihnya di ladang orang lain (melanggar ikatan pernikahan); dan orang yang mencela perempuan melampaui segala batas maryādā. Dalam bingkai etika Udyoga Parva, ini adalah pelanggaran berat yang mengundang akibat keras.
विदुर उवाच
Maintain maryādā in relationships and speech: do not sexualize or mock a daughter-in-law, do not violate another’s marriage (the ‘other’s field’ metaphor), and do not malign women excessively. Such acts are presented as serious adharma with grave consequences.
In Udyoga Parva, Vidura delivers moral counsel (Vidura-nīti) amid political crisis, listing behaviors that lead to downfall. This verse highlights specific transgressions involving family boundaries, adultery, and abusive speech.