Udyoga-parva Adhyāya 3 — Sātyaki on Inner Disposition, Legitimacy, and Coercive Readiness
न व्यवस्यन्ति पाण्डूनां प्रदातुं पैतृक वसु । वे भीष्म, द्रोण और विदुरके बहुत अनुनय-विनय करनेपर भी पाण्डवोंको उनका पैतृक धन वापस देनेका निश्चय अथवा प्रयास नहीं कर रहे हैं
na vyavasyanti pāṇḍūnāṃ pradātuṃ paitṛkaṃ vasu |
Waiśampāyana berkata: “Mereka tidak berketetapan untuk mengembalikan harta warisan para Pāṇḍava. Bahkan setelah banyak permohonan sungguh-sungguh dan nasihat pendamaian—dari Bhīṣma, Droṇa, dan Vidura—mereka tidak juga mengambil keputusan, dan tidak pula berusaha, untuk memulihkan kepada para Pāṇḍava apa yang menjadi hak mereka; penolakan sengaja terhadap keadilan inilah yang mendorong negeri menuju pertikaian.”
वैशम्पायन उवाच
Refusing to restore another’s rightful inheritance—despite wise elders urging reconciliation—signals adharma: it violates justice, undermines legitimate order, and makes violence more likely. Ethical governance requires honoring rightful claims and heeding principled counsel.
In the lead-up to war, the Kaurava side remains unwilling to return the Pāṇḍavas’ ancestral share. Even the persuasive efforts of respected elders—Bhīṣma, Droṇa, and Vidura—fail to move them toward a decision or concrete action of restitution.