स्थावरं जड़म॑ चैव जगत् सर्व सुरासुरम् । भारते भरतश्रेष्ठ एकस्थमिह दृश्यते
vaiśampāyana uvāca |
sthāvaraṃ jaḍaṃ caiva jagat sarvaṃ surāsuram |
bhārate bharataśreṣṭha ekastham iha dṛśyate, bharataśreṣṭha ||
Vaiśampāyana berkata: “Wahai yang terbaik di antara keturunan Bharata, di dalam Mahābhārata ini tampak seluruh jagat berhimpun pada satu tempat—yang tak bergerak dan yang beku, dan juga para dewa beserta para asura. Di sini terlihat Rudra, para Sādhya, para Viśvedeva yang abadi, Surya, kedua Aśvinīkumāra, para Lokapāla, para Mahārṣi, para Guhyaka, Gandharva, Nāga, Vidyādhara, Siddha, Dharma, Brahmā Sang Svayambhū, resi agung Kātyāyana, gunung-gunung, samudra, sungai-sungai, rombongan Apsaras, planet-planet, tahun, ayana, musim, dan seluruh alam bergerak maupun tak bergerak—dewa dan asura—semuanya berkumpul dan tampak di sini.”
वैशम्पायन उवाच
The verse frames the epic’s end as a universal moral theatre: all orders of existence—divine, demonic, living, and inert—are envisioned as present together, implying that dharma is not merely a human concern but a cosmic principle before which all stand as witnesses.
Vaiśampāyana addresses Janamejaya and describes a scene of comprehensive gathering: the whole world, including suras and asuras, appears as if assembled in one place—an epic device that heightens the sense that the concluding events of Svargārohaṇa are of universal significance.