धर्म्यविजय-नियमाः
Rules for Dharmic Victory in Kṣatriya Engagement
अश्रद्दधानश्न भवेद् विनाशमुपगच्छति । सम्बद्धो वारुणै: पाशैरमर्त्य इव मन्यते
aśraddadhānaś ca bhaved vināśam upagacchati | sambaddho vāruṇaiḥ pāśair amartya iva manyate ||
Bhīṣma berkata: “Orang yang kehilangan keyakinan pada dharma akan menuju kebinasaan. Terikat oleh jerat-jerat Varuṇa, ia tetap mengira dirinya takkan mati. Dengan harta yang diperoleh lewat perbuatan dosa ia bersukacita; bertumbuh lewat pencurian ia makin melekat pada kejahatan; menganggap ‘dharma tidak ada,’ ia mengejek orang berhati suci. Ketika tak tersisa hormat pada kebenaran, dosa sendirilah yang menyeretnya ke kehancuran—ia membayangkan diri laksana dewa, tak menua dan abadi, namun pada akhirnya pasti tertangkap dalam ikatan Varuṇa.”
भीष्म उवाच
Loss of faith in dharma leads to moral blindness and eventual ruin; even if a sinner feels invincible, the consequences of wrongdoing (symbolized by Varuṇa’s noose) inevitably bind and bring downfall.
In Śānti Parva, Bhīṣma instructs Yudhiṣṭhira on righteous conduct. Here he describes the psychological arc of a sinner—gaining illicit wealth, mocking the virtuous, denying dharma—and warns that such a person, though imagining immortality, is ultimately caught by the inescapable bonds of moral law.