Āścarya-kathana: Brāhmaṇa–Nāga Dialogue on Sūrya (Vivasvat) and the ‘Second Sun’ Phenomenon
एवमेक॑ सांख्ययोगं वेदारण्यकमेव च
evaṁ ekaṁ sāṅkhyayogaṁ vedāraṇyakam eva ca | pañcarātrāgamaṁ caiva bhaktimārga-pradarśakam || ete sarve śāstrāṇi ekalakṣya-sādhakāni iti ekam ucyante | anyonyāṅgāni caite | sarvakarmāṇi bhagavato nārāyaṇasya caraṇāravindeṣu samarpayitum ekānta-bhaktānāṁ dharmaḥ ||
Vaiśampāyana berkata: Demikianlah Sāṅkhya—yang mengajarkan pembedaan antara Sang Diri dan yang bukan Diri—Yoga—yang mengajarkan pengekangan gelombang-batin—bagian Āraṇyaka dari Weda (Upaniṣad) yang menyingkap ketakberbedaan jīva dan Brahman—serta tradisi Pañcarātra yang menegakkan jalan bhakti: semuanya disebut satu, karena mengabdi pada satu tujuan. Semuanya saling menopang, masing-masing menjadi anggota bagi yang lain. Bagi para bhakta yang berketetapan tunggal, dharma sejati ialah mempersembahkan setiap tindakan ke kaki-teratai Bhagavān Nārāyaṇa.
वैशम्पायन उवाच
Different spiritual disciplines—Sāṅkhya (discernment), Yoga (mental restraint), Upaniṣadic wisdom (non-duality of jīva and brahman), and Pañcarātra devotion—are not competing systems but complementary means toward one goal; for the one-pointed devotee, the culmination is dedicating all actions to Nārāyaṇa.
In Vaiśampāyana’s discourse within the Śānti Parva’s instruction on dharma and liberation, he synthesizes multiple śāstric approaches and frames them as mutually supportive, concluding with a devotional ethic of offering every deed to the Lord.