राजन्! कोई कहीं भी दैवके विधानका उल्लंघन नहीं कर सकता। अतः दण्ड अथवा शस्त्रद्वारा किया हुआ पाप किसी पुरुषको लागू नहीं हो सकता (क्योंकि वे दैवाधीन होकर ही दण्ड या शस्त्रद्वारा मारे गये हैं) ।। यदि वा मन्यसे राजन् हतमेकं प्रतिछ्ठितम् । एवमप्यशुभं कर्म न भूतं न भविष्यति
yadi vā manyase rājan hatam ekaṃ pratiṣṭhitam | evam apy aśubhaṃ karma na bhūtaṃ na bhaviṣyati ||
Wahai Raja, tak seorang pun di mana pun dapat melanggar ketetapan ilahi. Karena itu, dosa yang terjadi melalui hukuman atau senjata tidak melekat pada seseorang dengan cara yang sama. Dan jika engkau tetap menganggap bahwa membunuh satu orang pun merupakan kesalahan pribadi yang tetap, sekalipun demikian tidaklah tegak suatu perbuatan yang sungguh jahat—baik sebagai sesuatu yang telah terjadi maupun yang akan terjadi.
व्यास उवाच
The verse argues that when events unfold under daiva (destiny/ordained order), the moral imputation of ‘sin’ for killing by punishment or weapons is not straightforward; even if one insists a killing is ‘established’ as a fact, it does not automatically become an aśubha (evil) act in the sense of willful wrongdoing.
Vyāsa addresses a king, reasoning about the ethics of violence and punishment. He frames death in battle or by royal punishment as occurring under the larger ordinance of destiny, aiming to resolve the king’s doubt or remorse about culpability.