नारद–शुक संवादः
Impermanence, Svabhāva, and Śuka’s Resolve for Yoga
पश्यापश्यं यो न पश्येत् क्षेम्यं तत्त्वं च काश्यप । केवलाकेवलं चाद्यं पञ्चविंशं परं च यत्
paśyāpaśyaṃ yo na paśyet kṣemyaṃ tattvaṃ ca kāśyapa | kevalākevalaṃ cādyaṃ pañcaviṃśaṃ paraṃ ca yat ||
Yājñavalkya bersabda: “Wahai Kāśyapa, siapa yang tidak membedakan antara sang penyaksi dan yang disaksikan—antara Diri yang sadar dan medan yang tak berjiwa—tidak sungguh memandang kenyataan yang membawa keselamatan. Ia pun tidak memahami dengan tepat ‘kevala’ (Diri yang murni, tak terikat), ‘akevala’ (Diri yang berhubungan dengan Prakṛti), prinsip purba, yang kedua puluh lima (Puruṣa), dan Yang Mahatinggi melampaui semuanya. Tanpa pengetahuan benar itu, ia tetap terjerat dalam putaran datang dan pergi.”
याज़्ञवल्क्य उवाच
Liberating insight requires discriminating consciousness (the seer/Self) from insentient nature (the seen/Prakṛti and its products). One must also understand the Self as both ‘pure’ (kevala) and ‘associated’ (akevala) in lived experience, recognize the Sāṅkhya framework of principles (including the 25th, Puruṣa), and know the Supreme beyond them; without this right discernment, one remains bound to saṃsāra.
In Śānti Parva’s instruction on peace and liberation, the sage Yājñavalkya addresses Kāśyapa, emphasizing philosophical discrimination and correct metaphysical knowledge as the basis for welfare and release from repeated birth and death.