Vasiṣṭha on Saṃsāra, Guṇas, and Misattributed Agency
Mahābhārata 12.292
जिसका सदाचार एवं सत्कर्म कभी लुप्त नहीं होता, वह ब्राह्मण (अग्निहोत्र न करनेपर भी) अन्निहोत्री ही है। सदाचारका ठीक-ठीक पालन होनेपर अग्निहोत्र न हो सके तो भी अच्छा है; किंतु सदाचारका त्याग करके केवल अग्निहोत्र करना कदापि कल्याणकारी नहीं है।।
agnir ātmā ca mātā ca pitā janayitā tathā | guruś ca naraśārdūla paricaryā yathātatham ||
Parāśara mengajarkan: siapa yang tata susila dan kebajikannya tak pernah surut, ia tetaplah seorang “pelaku Agnihotra” dalam hakikatnya, meski tidak mampu menunaikannya. Bila perilaku benar dijaga dengan saksama namun Agnihotra tak dapat dilakukan, itu masih lebih baik; tetapi meninggalkan disiplin etis lalu hanya menjalankan ritual semata tidak pernah membawa kebaikan. Ia menambahkan: wahai harimau di antara manusia, Api (Agni), Diri (Ātman), ibu, ayah yang melahirkan, dan guru—semuanya patut dilayani dengan cara yang semestinya.
पराशर उवाच
Ethical discipline (sadācāra) is superior to mere ritual performance: if ritual like Agnihotra cannot be done, maintaining right conduct still upholds dharma; but ritual without morality is not spiritually beneficial. One should also render proper service to Agni, oneself (through self-discipline), mother, father, and guru.
In Śānti Parva’s instruction on dharma, the sage Parāśara addresses the listener (honorifically, ‘naraśārdūla’) and lays down a hierarchy of values: conduct and service-based duties are emphasized over external ritualism, framing dharma as lived responsibility toward sacred fire, self, parents, and teacher.