श्रेयो-धर्मकर्मविचारः
Inquiry into Śreyas, Dharma, and Karma
प्रजाविसर्ग तु सशेषकाले स्थानानि स्वान्येव सरन्ति जीवा: । निःशेषतस्तत्पदं यान्ति चान्ते सर्वे देवा ये सदृशा मनुष्या:
prajāvisarga tu saśeṣakāle sthānāni svānyeva saranti jīvāḥ | niḥśeṣatastatpadaṃ yānti cānte sarve devā ye sadṛśā manuṣyāḥ ||
Bhishma menjelaskan: Pada saat penciptaan kembali, makhluk yang pada momen pralaya masih menyisakan buah karma yang belum tuntas, secara alami kembali ke kedudukan dan alam yang sama seperti yang pernah mereka capai, untuk menikmati sisa buah itu. Namun mereka yang pada akhir aeon telah menghabiskan sepenuhnya buah karma yang menopang status kedewaan—ketika alam surga itu sendiri pun lenyap—memasuki siklus berikutnya bukan sebagai dewa lagi, melainkan seperti makhluk lain yang sepadan perbuatannya, terlahir dalam kondisi manusia.
भीष्म उवाच
Karmic results govern post-dissolution destiny: if karmic fruits remain unexhausted at pralaya, beings resume the same realm in the next creation to finish that experience; if those fruits are fully exhausted by the aeon’s end, the divine status does not persist, and they take birth according to comparable deeds—often as humans.
In Bhīṣma’s instruction in the Śānti Parva, he describes how beings are redistributed after cosmic dissolution and re-creation, distinguishing between those with remaining karmic residue and those whose heaven-sustaining merit has been fully spent.