Adhyāya 262: Śabda-brahman, Para-brahman, and the Ethics of Tyāga
Kapila–Syūmaraśmi Saṃvāda
ब्रह्मैव वर्तते लोके नैव कर्तव्यतां पुन: । जो करने योग्य कर्मोको अपना कर्तव्य समझता है और उसका पालन न होनेपर भय मानता है
brahmaiva vartate loke naiva kartavyatāṃ punaḥ |
Brahman sajalah yang bekerja dan meresapi dunia ini; karena itu tidak ada ‘kewajiban’ yang mengikat sebagai sesuatu yang terpisah dari-Nya. Ia yang memandang tugas-tugas sebagai “kewajibanku” dan takut bila luput melaksanakannya; namun yang melihat imam upacara, persembahan, mantra, dan api—semuanya semata Brahman; dan yang tidak mengklaim kewajiban apa pun sebagai “milikku”, bebas dari keakuan sebagai pelaku—dialah brāhmaṇa sejati.
चुलाधार उवाच
Seeing Brahman as the sole reality behind all actions and ritual elements dissolves the ego of doership and possessive duty; true brāhmaṇa-hood is defined by this non-appropriating wisdom rather than by mere ritual performance.
Cūlādhāra is instructing his interlocutor in Śānti Parva by redefining dharma and brahminhood: he shifts the focus from fear-driven obligation and external ritual identity to inner realization—everything involved in sacrifice is Brahman, and one should act without the conceit ‘I am the doer’ or ‘this duty is mine’.