धर्मलक्षण-प्रश्नः (Marks and Sources of Dharma) | Chapter 251: Inquiry into the Definition of Dharma
एकादशस्त्वनन्तात्मा स सर्व: पर उच्यते | व्यवसायात्तमिका बुद्धिर्मनो व्याकरणात्मकम् | कर्मानुमानादू विज्ञेय: स जीव: क्षेत्रसंज़्क:
ekādaśas tv anantātmā sa sarvaḥ para ucyate | vyavasāyātmikā buddhir mano vyākaraṇātmakam | karmānumānād u vijñeyaḥ sa jīvaḥ kṣetrajña-saṃjñakaḥ avināśī ātmā ||
Vyāsa berkata: “Prinsip kesebelas adalah Ātman yang tak berhingga; ia dinyatakan sebagai kenyataan yang meliputi segalanya dan yang tertinggi. Buddhi bersifat penetapan yang tegas, sedangkan manas—karena menganalisis—digambarkan sebagai yang bimbang dalam keraguan. Dari penalaran atas tindakan—sebab perbuatan menuntut adanya yang mengetahui dan yang bertindak—hendaknya dipahami adanya diri yang tak binasa: sang jīva yang disebut ‘kṣetrajña’, sang ‘pengetahu medan’.”
व्यास उवाच
The verse distinguishes buddhi (decisive intellect) from manas (analytical, doubt-prone mind) and argues that action implies a conscious knower and agent; therefore an imperishable Self exists, called the kṣetrajña (knower of the field/body).
In the didactic discourse of Śānti Parva, Vyāsa continues a philosophical exposition on principles (tattvas), identifying the supreme eleventh principle as the infinite Self and explaining how reasoning from karma supports recognition of the kṣetrajña.