Adhyāya 240: Indriya–Manas–Buddhi–Ātman — The Inner Hierarchy and Restraint (इन्द्रिय-मनस्-बुद्धि-आत्म-क्रमः)
न प्रहृष्येत लाभेषु नालाभेषु च चिन्तयेत् । सम: सर्वेषु भूतेषु सथर्मा मातरिश्वन:
na prahṛṣyet lābheṣu nālābheṣu ca cintayet | samaḥ sarveṣu bhūteṣu stharmā mātariśvanḥ | sattvasaṃsevanād dhīro nidrām ucchettum arhati |
Vyāsa berkata: Jangan bersorak ketika keuntungan datang, dan jangan larut dalam gundah ketika keuntungan tidak datang. Hendaknya ia memandang semua makhluk dengan keseimbangan. Seperti angin—bergerak ke mana-mana namun tidak melekat—hendaknya ia hidup tanpa keterikatan dan tanpa tempat tinggal yang tetap. Dengan menumbuhkan sattva, orang yang teguh layak memutus tidur dan kelambanan; dan sebagaimana diajarkan para bijak, ia harus mencabut sampai ke akar cela batin seperti nafsu, amarah, ketamakan, takut, dan delusi mimpi, menaklukkan amarah dengan pengendalian diri dan nafsu dengan meninggalkan sangkalpa yang memaksa.
व्यास उवाच
Maintain equanimity in gain and loss, treat all beings with equal regard, and live unattached—like the wind that moves everywhere without clinging. Ethical steadiness is supported by cultivating sattva, which helps uproot torpor and weaken inner faults such as desire and anger.
In Śānti Parva’s instruction on dharma and inner discipline, Vyāsa delivers a concise set of ascetic-ethical guidelines: do not be elated or dejected by outcomes, remain impartial toward all beings, and practice a non-clinging way of life, supported by sattvic cultivation.