श्रीशक्रसंवादः — The Dialogue of Śrī
Lakṣmī) and Śakra (Indra
युधिष्ठिरने पूछा--पितामह! व्रतयुक्त द्विजगण वेदोक्त सकामकर्मोंके फलकी इच्छासे हविष्यान्नका भोजन करते हैं, उनका यह काय उचित है या नहीं? ।।
bhīṣma uvāca | avedoktavratopetā bhuñjānāḥ kāryakāriṇaḥ | vedokteṣu ca bhuñjānā vratlubdhā yudhiṣṭhira ||
Yudhishthira bertanya: “Wahai Pitamah, para dwija yang menjalankan vrata memakan makanan ritual (haviṣya) dengan maksud memperoleh buah dari karma yang dianjurkan Veda dan dilakukan demi hasil. Apakah itu patut atau tidak?” Bhishma menjawab: “Yudhishthira, mereka yang bersandar pada vrata yang tidak disahkan Veda lalu memakan haviṣya bertindak semata menurut kehendak sendiri. Dan bahkan mereka yang menjalankan laku yang disahkan Veda namun melakukan upacara dengan hasrat akan hasil, lalu makan di dalamnya, juga disebut ‘rakus akan buah vrata’; terikat oleh nafsu itu, mereka tetap terseret untuk kembali berulang kali ke dunia.”
भीष्म उवाच
Bhishma distinguishes between (1) non-Vedic observances followed by mere personal preference and (2) Veda-sanctioned observances pursued with desire for results. He criticizes both: the first as arbitrary, the second as still binding when motivated by craving for fruits, thereby sustaining worldly bondage.
Yudhishthira asks whether Brahmins who eat haviṣya food seeking the fruits of Vedic desire-motivated rites are acting rightly. Bhishma replies that non-Vedic vow-eaters are self-willed, and even Vedic vow-eaters who are attached to results are ‘fruit-greedy,’ implying continued entanglement in saṃsāra.