Śarīrin, Buddhi, and the Limits of Sense-Perception (इन्द्रियबुद्धिशरीरिविचारः)
पांसुभस्मकरीषाणां यथा वै राशयश्िता: । सहसा वारिणासिक्ता न यान्ति परिभावनम्
bhīṣma uvāca | pāṃsubhasmakarīṣāṇāṃ yathā vai rāśayaḥ sthitāḥ | sahasā vāriṇā siktā na yānti paribhāvanam |
Seperti tumpukan debu, abu, dan bubuk kotoran sapi kering yang bila tiba-tiba diperciki air tidak serta-merta menjadi lembap merata dan siap dipakai, demikian pula batin tidak menjadi layak untuk kontemplasi mantap hanya oleh upaya yang mendadak. Dengan pembasahan berulang dan bertahap, barulah massa kering itu melunak hingga ke dalam; begitu pula yogin hendaknya dengan sabar menarik kembali indria yang tercerai menuju objek-objeknya, dan melalui latihan meditasi yang terus-menerus menjadikan batin kian lentur, teduh, dan tenang—hingga benar-benar damai.
भीष्म उवाच
Mental steadiness is not achieved by sudden force; like dry heaps that need repeated wetting, the senses and mind must be trained gradually through sustained practice, leading to genuine calm and fitness for contemplation.
In Bhishma’s instruction to Yudhishthira in the Shanti Parva, he uses a practical household analogy—sprinkling water on dry heaps—to explain how a yogin should patiently withdraw the senses and soften the mind through repeated meditative practice.