धर्मसूक्ष्मे त्यागप्रधान्यविचारः
Subtle Dharma and the Primacy of Renunciation
कल्याणगोचरं कृत्वा मनस्तृष्णां निगृह[ च । कर्मसंततिमुत्सृज्य स्यान्निरालम्बन: सुखी
kalyāṇa-gocaraṁ kṛtvā manas-tṛṣṇāṁ nigṛhya ca | karma-santatim utsṛjya syān nirālambanaḥ sukhī ||
Karena itu, hendaklah seseorang mengarahkan batin pada yang baik dan membawa berkah, mengekang nafsu-haus, serta meninggalkan rangkaian tindakan yang tak berkesudahan yang digerakkan oleh keinginan. Tanpa bergantung pada sandaran seperti harta, keluarga, dan milik, ia menjadi bahagia—tanpa tumpuan pada apa pun di luar dirinya.
युधिछिर उवाच
Happiness is stabilized by directing the mind toward the auspicious, restraining craving (tṛṣṇā), and relinquishing the desire-driven chain of actions; one should become ‘nirālambana’—not dependent on external supports like wealth or social attachments.
In Śānti Parva’s instruction on peace and liberation after the war, Yudhiṣṭhira articulates a renunciatory ethic: inner discipline and detachment from worldly props are presented as the means to lasting well-being.