Dama-pradhāna-dharma (Self-restraint as the Root of Dharma) — Śānti-parva 154
न मे मानुषलोको«यं मुहूर्तमपि रोचते । इस संसारमें सब कुछ असत्य एवं बहुत अरुचिकर है। यहाँ अनाप-शनाप बकनेवाले तो बहुत हैं, परंतु प्रिय वचन बोलनेवाले विरले ही हैं। यहाँ का भाव दुःख और शोककी वृद्धि करनेवाला है। इसे देखकर मुझे यह मनुष्यलोक दो घड़ी भी अच्छा नहीं लगता ।। ८५ * अहो धिग् गृध्रवाक्येन यथैवाबुद्धयस्तथा
na me mānuṣa-loko ’yaṁ muhūrtam api rocate | aho dhig gṛdhra-vākyena yathaivābuddhayas tathā ||
Jambuka berkata: “Dunia manusia ini tak menyenangkan bagiku walau sesaat. Segalanya tampak palsu dan amat menjijikkan. Banyak yang berbicara liar tanpa kendali, namun yang mengucapkan kata-kata ramah dan menenteramkan sangat jarang. Suasana di sini hanya menambah duka dan nestapa. Melihatnya, alam manusia ini tak kuanggap baik bahkan untuk sekejap. Ah, sungguh memalukan! Begitulah pengaruh ucapan bak burung nasar: manusia pun menjadi sama tak bijaksananya.”
जम्बुक उवाच
The verse critiques the moral atmosphere of the human world: falsehood, reckless talk, and speech that increases grief. It implies an ethical ideal of restrained, truthful, and kindly speech, and warns that predatory/harsh words degrade discernment and character.
Jambuka is speaking in a reflective, disillusioned tone, expressing disgust toward human society. He observes that many people speak nonsense while genuinely pleasing and benevolent speech is rare, and he condemns “vulture-like” speech for fostering folly and sorrow.