कपोत-लुब्धकसंवादः — Hunter’s Remorse and Renunciatory Resolve
आगतागमया बुद्धया वचनेन प्रशस्यते । अज्ञानाऊज्ञानहेतुत्वाद् वचनं साधु मन््यते
āgatāgamayā buddhyā vacanena praśasyate | ajñānāj jñāna-hetutvād vacanaṃ sādhu manyate ||
Bhishma berkata: Ucapan dipuji bila disampaikan dengan intelek yang berakar pada tradisi yang diterima dan ajaran otoritatif. Karena menjadi sebab berubahnya ketidaktahuan menjadi pengetahuan, ucapan demikian dianggap baik. Yang disetujui oleh Veda dan śāstra serta diungkapkan dengan penalaran itulah yang menegakkan wibawa śāstra dalam benak orang; sedangkan menganggap logika semata sebagai yang tertinggi untuk mengetahui yang belum diketahui adalah kekeliruan belaka.
भीष्म उवाच
Sound teaching should unite scriptural/traditional authority (āgama) with disciplined reasoning (buddhi). Speech that helps transform ignorance into knowledge is ‘good’; treating logic alone as supreme while ignoring śāstra is presented as misguided.
In Śānti Parva, Bhīṣma instructs Yudhiṣṭhira on dharma and right understanding. Here he explains how authoritative knowledge is validated: statements rooted in Veda/śāstra and supported by reason are what people accept and what makes scripture effective.