Dasyu-maryādā and Buddhi-guided Rāja-nīti (दस्युमर्यादा तथा बुद्धिप्रधान-राजनीति)
राजा दीन-दुःखियोंकी भी सुधि लेता और सबका पालन करता है, इसलिये वह माताके समान है। अपने और प्रजाके अप्रियजनोंको वह जलाता रहता है; अतः अग्निके समान है और दुष्टोंका दमन करके उन्हें संयममें रखता है; इसलिये यम कहा गया है ।।
rājā dīna-duḥkhiyōṃ kī bhī sudhi lētā aura sabkā pālana karatā hai, isaliye vaha mātā ke samāna hai. apane aura prajā ke apriyajanōṃ ko vaha jalātā rahatā hai; ataḥ agni ke samāna hai aura duṣṭōṃ kā damana karake unheṃ saṃyama meṃ rakhatā hai; isaliye yama kahā gayā hai. iṣṭeṣu visṛjann arthān kubera iva kāmadaḥ. gurur dharmopadeśena goptā ca paripālayan.
Raja mengingat bahkan yang miskin dan menderita serta menopang semua; karena itu ia laksana seorang ibu. Ia membakar habis yang merugikan dan tak menyenangkan—baik dalam dirinya maupun di tengah rakyatnya—maka ia laksana api. Dengan mengekang dan menghukum orang jahat, ia menegakkan disiplin; karena itu ia disebut Yama. Dengan melimpahkan harta kepada para sahabat dan memenuhi hasrat mereka, ia laksana Kubera (Vaiśravaṇa), pemberi kekayaan. Dengan mengajarkan dharma ia adalah guru, dan dengan melindungi serta memelihara semua ia adalah penjaga.
ब्रह्मदत्त उवाच
The verse defines ideal kingship through layered metaphors: the ruler must nurture like a mother, purify and deter harm like fire, enforce justice like Yama, provide prosperity like Kubera, teach dharma like a guru, and protect all as a guardian. Rajadharma is presented as a balance of compassion, discipline, generosity, and moral instruction.
In the Shanti Parva’s discourse on governance and dharma, Brahmadatta describes the king’s public role by comparing him to divine and elemental archetypes (Agni, Yama, Kubera). The passage is didactic, outlining how a ruler should relate to subjects—supporting the vulnerable, restraining wrongdoers, rewarding the worthy, and upholding dharma.